Posted by cahsaren
at 11:03 PM on March 16, 2009
|
|
Standard WLAN 802.11 disahkan oleh IEEE pada tahun 1997. Standard
ini berlaku untuk kecepatan 1 Mbps dan 2MBps. Standard ini difokuskan
pada lapisan 1 dan 2 dari model OSI yaitu physical layer dan data link
layer. Untuk memenuhi kebutuhan kecepatan yang lebih tinggi maka pada
tahun 1999 dikeluarkan standar 802.11b dengan kecepatan 5.5Mbps dan
11Mbps.
Keuntungan Penggunaan Wireless
Dunia usaha dalam berbagai ukuran sangat beruntung dengan
mengoperasikan sistem WLAN yang mampu memberikan kombinasi yang baik
antara truput yan mendekati jaringan kabel, akses mobile, dan
konfigurasi yang fleksible. Keuntungan ekonomis yang akan diperoleh
dapat mencapai US$16,000 / user (di US) ? di ukur dari produktifitas
pekerja, effisiensi organisasi, keuntungan, dan penghematan biaya ? di
bandingkan alternatif menggunakan kabel. Beberapa keuntungan utama WLAN
adalah:
- Mobilitas yang akan meningkatkan produktifitas dengan akses
real-time terhadap informasi, tidak peduli lokasi pekerja, agar lebih
cepat & lebih effisien dalam pengambilan keputusan.
- Setup jaringan lebih cost effective daripada lokasi yang sulit di
pasang kabel seperti gedung tua atau bangunan dengan tembok yang masif.
- Pengurangan cost of ownership ? terutama di lingkungan yang dinamis
yang membutuhkan modifikasi yang sangat sering ? kita harus berterima
kasih karena sedikitnya wiring dan biaya instalasi per alat dan per
user.
- WLAN memerdekakan user dari ketergantungan pada akses kabel ke
backbone jaringan, memberikan mereka akses jaringan kapan saja, dimana
saja. Kebebasan untuk roaming ini memberikan banyak keuntungan dalam
berbagai lingkungan pekerjaan, seperti:
- Akses informasi secara langsung di samping tempat tidur pasien bagi dokter & staff rumah sakit.
- Kemudahan, akses jaringan secara real-time untuk auditor / konsultan on-site.
- Kemudahan akses database bagi supervisor yang bergerak, seperti
manager di production line, auditor gudang, maupun engineer di
konstruksi.
- Membuat konfigurasi jaringan lebih simpel tanpa perlu keterlibatan
orang MIS untuk setup sementara seperti di pameran atau ruang
konferensi.
- Akses yang lebih cepat kepada informasi tentang pelanggan oleh
vendor / retailer yang menyebabkan perbaikan layanan pelanggan dan
perbaikan customer satisfaction.
- Akses ke jaringan yang tidak terikat pada lokasi bagi administrator
jaringan, untuk kemudahan dukungan on-site pada saat troubleshooting
& support.
- Akses real-time bagi pertemuan-pertemuan kelompok belajar untuk siswa / mahasiswa.
Oleh karena itu kelebihan yang ditawarkan oleh WLAN, terutama
protable, kemudahan instalasi and kepraktisan. Faktor yang sangat
menarik dari WLAN adalah kemudahan, karena dia memungkinkan
fleksibilitas dan roaming. Seorang user tidak harus terikat dalam
sebuah LAN, dia dapat bergerak tanpa perlu terputus hubungan
komunikasinya. Di samping itu, WLAN juga mudah untuk di instalasi,
untuk membangun seluruh jaringan dibutuhkan waktu beberapa jam saja di
bandingkan beberapa hari jika kita menggunakan kabel. Juga, WLAN dapat
di instalasi di daerah dimana rewriring tidak memungkinkan. Sistem
tanpa kabel ini dapat di instalasi di berbagai lingkungan, dan user
dapat berkomunikasi dengan jaringan yang menggunakan kabel melalui
access point (AP) atau wireless adapter.
Konfigurasi WLAN
WLAN terdiri dari 2 perangkat yaitu:
- Wireless Station (WS) : dekstop, laptop maupun PDA yang dilengkapi dengan wireless NIC
- Access Point (AP) : berfungsi sebagai bridge antara jaringan LAN konvensional dan WLAN
Terdapat 2 jenis mode operasi WLAN yaitu:
- Infrastucture Mode, terdiri dari
- Basic Service Set (BSS), hanya terdapat satu Access Point
- Extented Service Set (ESS), dua BSS atau lebih membentuk satu buah subnet
- Ad-hoc Mode, terdiri dari beberapa wireless station yang berkomunikasi secara langsung (peer-to-peer) tanpa menggunakan AP.

Infrastucture Mode

Ad-hoc Mode
Koneksi dalam BSS
Proses terbentuknya koneksi dari WS ke AP dalam suatu BSS adalah sebagai berikut:
- AP mengirim sinyal beacon yang berisi SSID (Service Set
Identifier). SSID merupakan setting di AP yang digunakan mengelompokkan
WS dalam suatu segmen jaringan. Hanya WS yang mengetahui SSID tersebut
yang dapat bergabung dalam jaringan tersebut. SSID dapat dianggap
sebagai shared password.
- Ketika WS berada dalam daerah cakupan sebuah atau beberapa AP,
maka WS akan memilih salah satu AP berdasarkan kuat sinyal dan error
rate yang diterima. Secara periodik WS akan memantau untuk mengetahui
sinyal yang paling kuat. Jika ditemukan maka WS akan memilih AP yang
baru tersebut.
- Untuk bergabung dalam jaringan, maka WS harus melakukan koneksi ke
AP. WS harus menyebutkan SSID yang sesuai untuk bergabung dengan AP
yang telah dipilih tersebut. Beberapa AP yang memiliki SSID yang sama
akan membentuk ESS.
- Beberapa NIC WS bisa diset SSID nya dengan Any atau * (asterik)
sehingga dia dapat bergabung dengan AP mana saja yang paling kuat
sinyalnya tanpa mempedulikan SSID.
Sinyal WLAN
WLAN menggunakan sinyal radio pada frekuensi 2.4Ghz. Dalam
implementasi WLAN, letak AP diatur sedemikian sehingga hanya memiliki
cakupan tertentu yaitu wilayah operasi pemakai WLAN yang sah misalnya
satu lantai tertentu dalam suatu gedung. Namun sinyal radio ini dapat
merambat menembus dinding dan lantai bangunan meskipun sinyal menjadi
lemah. Dengan demikian sangat mungkin sinyal tersebut keluar dari
daerah cakupan yang semestinya. Luberan sinyal ini dapat merambat
keluar sampai beberapa ratus meter dari gedung apalagi jika AP
diletakkan tanpa memperhatikan masalah luberan sinyal ini misalnya
ditempatkan dekat dengan jendela yang menghadap luar gedung.
Dengan menggunakan antena terarah (directional) dan kalau perlu
menggunakan penguat sinyal sinyal radio (RF amplifier) maka sinyal
radio yang telah lemah tadi dapat ditangkap kembali pada tempat yang
relatif jauh.
